Mengapa Marquez Bisa Superior Di MotoGP-Part1

marc marquez training with motocross

Indomotorsport – Hallo gaez, siapa yang masih meragukan dominasi Honda dalam dekade ini? Dominasi Honda tak terbantahkan semenjak Marquez promosi ke kelas para raja ini. Lima kali juara dunia semenjak 2013 lalu di MotoGP. Satu kali juara dunia Moto3 dan sekali merengkuh juara dunia Moto2. Jika pabrikan rival tak mampu mengejar ketertinggalam dari Honda. Maka jangan harap akan ada juara dunia baru untuk tiga musim mendatang. Jangan harap akan ada rider lain yang bisa menandingi superior nya Marc Marquez.

Sebenarnya buaaanyak sekali faktor yang mempengaruhi dominasi Repsol Honda bersama Marquez ini. Jika di jentrekan ndak akan cukup 10 artikel untuk membahas satu per satu nya. Saya akan bahas beberapa faktor utama saja ya gaez, pertama adalah faktor dari skill sang pembalap. Ndak ada yang meragukan skill Marc Marquez ketika sudah naik kuda besinya.

Bosch mitigation Marquez Style Avoid Fall
(c)bosch
Bosch perusahaan asal Jerman mengembangkan teknologi anti jatuh terinspirasi dari Marc Marquez Style.

Salah satunya adalah kemampuan dari Marc yang terhindar dari crash saat akan terjatuh ketika low side. Low side adalah peristiwa jatuhnya pengendara karena ban depan mengalami slide atau kurang grip ke aspal. Ia mempunyai kemampuan untuk terhindar dari accident ini. Tekniknya adalah mengunakan lutut dan sikunya untuk menahan dan menstabilkan motornya kembali. Perusahaan asal Bosch pun tergerak untuk menciptakan teknologi yang menyerupai teknik dari Marquez. Bukan menggunakan lutut dan siku, namun menciptakan sistem chip yang nantinya mendeteksi ketika akan jatuh. Chip itu berguna untuk memicu alat seperti jet/rocket untuk menstabilkannya motor lagi.

Lalu ia adalah pembalap yang cerdas. Marquez juga merupakan manusia, ia juga bisa terjatuh saat menunggangi RC12V miliknya. Namun dari sekian puluh kali jatuh, ia mampu terhindar dari cidera parah. Ia mempunyai teknik yang mengagumkan untuk meminimalisir cidera. Hal ini pun di amini oleh rekannya di Honda Cal Crutchlow. Cal sangat heran dengan daya tahan dari tubuh Marquez. Selama masuk ke kelas primer, tercatan marc mengalami kecelakan hingga 72 kali(cmiiw) lho gaez. Namun Marc Marquez mampu terhindar dari cidera yang serius. Hmmmnnn,….. jangan jangan keturunan Hercules nih anak. Ini membuktikan bahwa Marc adalah sosok yang cerdas. Tak seperti Lorenzo yang acapkali kena cidera parah ketika terjadi insiden.

Marc mampu beradaptasi dengan cepat, ditambah bakat alami di atas rata rata. RC213V mampu di ajak manuver dengan lean angle 65 °.

Marc juga seorang yang mempunyai adaptasi yang tinggi. Dengan disiplin yang tinggi di sela-sela menjelang race, ia masih menyempatkan berlatih demi menjaga kebugarannya. Ia berlatih dengan menggunakan motorcross, bukan suatu kebetulan. Ia melatih refleknya disini, ya di lintasan motorcross. Banyak yang ia dapatkan, seperti yang saya uraikan di atas ia dapat dari sini.

Kemudian lintasan motorcross tak sama dengan lintasan MotoGP. Ya berbeda 180° yang satu aspal yang satu tanah. Lha bukannkah kontadiktif? Lalu apa korelasinya? Pada balapan MotoGP rider mempelajari racing line yang itu itu saja, namun berbeda dengan Motorcross gaez. Di setiap race para pembalap motorcross tidak akan menggunakan racing line yang sama. Jangankan setiap race, di setiap lap pun kondisi track bisa berubah gaez.

Marc Marquez mengasah skill dengan motorcross.
marc marquez training with motocross 02
(c)redbull

Karena permukaan tanah akan berubah setiap kali putaran, maka disinilah kolerasi antara Marc dan motorcross. Jika ingin tetap di depan berarti butuh adaptasi yang cepat ketika mengalami perubahan. Dengan motorcross reflek dan adaptasi lalu strategi serta reaksi akan perubahan keadaan mampu di serap oleh Marc. Tak ayal jika Marc menjadi pembalap yang adaptif saat di sirkuit. Hal ini pernah di lontarkan Alex Rins dari Suzuki Ecstar, saat ia mengikuti di belakang Marquez. Tak ada yang sama dari gaya balap Marquez di setiap lap yang ia lalui. Selalu berubah ubah di beberapa putaran, sehingga sangat sulit untuk mempelajari Marc untuk bisa mendahuluinya.

Selanjutnya adalah Marc Marquez berlabuh di tim yang tepat. Entah keajaiban atau keberuntungan saat ia promosi ke MotoGP ia menerima pinangan dari HRC. Mungkin bakat dari Marc terendus oleh Shuhei Nakamoto Honda Racing Corporation (HRC) Executive Vice President saat 2012 lalu. Namun baru 2013 lah bersama dengan Team Principal Livio Suppo, Nakamoto berhasil mendapatkan tandatangan dari The Baby Alien. Berkat peran salah dua pentolan dari HCR itulah kini Honda seakan nyaris tak terkejar oleh rival-rivalnya.

Jorge Lorenzo Movistar Yamaha World Championship MotoGP 2015
Namun dengan finansial setara dengan sultan, tak butuh waktu yang lama bagi Honda untuk memahami ECU dari Magneti Merelli ini .

Superior nya Marc Marquez bersama HRC sempat terhenti. Sekali kecolongan ketika 2015 saat Jorge Lorenzo saat itu masih di Movistar Yamaha mampu meredam laju dari Honda. Hal itu terjadi saat penyeragaman elektronik dari Magneti Merelli (cmiiw). ECU Magneti Merelli menggantikan ECU inhouse yang di kembangkan oleh masing-masing pabrikan. Hal ini di lakukan Dorna agar memangkas kesenjangan antar tim di MotoGP. Agar setiap seri lebih menarik. Dengan langkah ini Dorna berharap kans untuk para rider memenangi balapan akan bervariasi. Ndak ada salah satu pembalap yang dominan. Namun apa yang terjadi,….??? Tetaplah Pabrikan yang mempunyai finansial yang kuat masih mendominasi.

Dengan membajak teknisi Magneti Merelli yaitu orang yang bernama Filippo Tosi. Pasca rekrutmen itu superior dari RC213V saat di tunggai Marquez kian menjadi-jadi. Seakan ngacir setelah seri MotoGP Brno, kemudian kembali berjaya setelahnya sehingga merengkuh Triple Winner. Marc Marquez menjadi juara dunia. Honda sebagai juara Konstruktor. Gabungan poin rider berhasil menasbihkannya Repsol Honda menjadi Juara Tim.

Filippo Tossi
Filippo Tosi Electronic control systems engineer at Honda Racing Corporation (HRC)

Sebelum membajak Filippo Tosi untuk bergabung ke HRC. Honda bekerja keras dari segi teknis agar bisa padu dengan ECU dari Magneti Merelli. Honda seakan kehilangan arah dan buta sama sekali dengan penyeragaman software elektronik ini. Dengan pendanaan sekelas sultan, developmen di fokuskan ke sektor teknis. Jalan keluarnya adalah merubah Fordward menjadi Backward Rotating Crankshaft. Lalu tak luput pula di segi pengapian, Screamer Firing di sulap menjadi Bingbang Firing Order. Tim lain sudah berkemas, namun di garasi Honda masih berjibaku dengan mesin demi mengejar ketertinggalan sampai larut malam.

Apa lagi ya kira kira yang membuat Marquez begitu superior diatas RC213V,…. Next article will be interest…. so stay tune yes,…

Gracias, hasta la próxima,…

Tinggalkan Balasan